Senin, 01 Maret 2010

Berkendara di Jakarta (1)

Apakah Anda commuter yang berkendara setiap hari ke dan dari Jakarta? Pernahkah Anda merasa stres dengan jalanan dan tingkah laku pengguna jalan di Jakarta? Jawaban saya, IYA

Saya tinggal di Depok dan berkantor di Jakarta Pusat. Awalnya saya sempat memilih menggunakan KRL Jakarta-Depok tapi lama-lama nyerah juga. Satu kejadian yang membuat saya kapok naik KRL adalah justru ketika saya naek Ekonomi AC. Kok bisa? Begini ceritanya, saya terbiasa naik Express di pagi hari Ekonomi non AC di malam hari. Kalo ketinggalan Express Kota, saya memilih Express Tanah Abang. Ya intinya sama-sama aja, penuh. Tetap harus berdesakan walaupun tidak seekstrem di Ekonomi.

Beberapa kali saya naik Express Kota, emosi saya dibuat membuncah. Kadang, ada Mbak-Mbak yang seolah sengaja bersandar ke orang di sekitarnya atau mepet-mepet, yang sebenernya saya rasa tidak perlu karena di tidak sepenuh itu juga. Dari dulu saya paling ga suka kontak fisik, 'enak aja nyender-nyender, risih tau' saya bergeser (ingat, kondisinya adalah tidak begitu penuh jadi masih ada space untuk tidak bersandar) dia ikut pindah juga seolah memang penuh. Bikin risih aja... Mau duduk, serba salah. Kadang lagi kurang sehat, pusing dan menemukan tempat duduk kosong tapi tidak sampai 3 menit kemudian harus berdiri karena ga tega liat cewek berdiri. Padahal sama-sama bayar toh?

Pulang kantor memang saya memilih ekonomi non ac. Awalnya sih alasan subsidi silang, biar ga berat-berat amat ongkosnya. Walaupun desak-desakan, saya masih bisa merapat ke arah jendela atau kipas angin (ada beberapa armada yang kipasnya memang nyala). Nah kalo ini jelas memang penuh 'tak manusiawi' jadi mepet ga masalah.

Suatu saat saya mencoba memilih Express. Penuh tapi okelah, masih kerasa nyamannnya walaupun pegel. Esoknya saya pulang dengan Ekonomi AC, mencoba strata yang lebih terjangkau. Ini dia yang bikin saya kapok!

Harga karcis Ekonomi AC yang notabene jauh lebih mahal dari Ekonomi non AC dan bahkan mendekati harga Express ternyata tidak menjamin kenyamanan. Penumpangnya sama berdesakannya dengan Ekonomi non AC, jadi sebenarnya ini strata yang sama, hanya beda di AC. Justru itu masalahnya. Dengan begitu padatnya penumpang ekonomi AC (tidak beda dengan non AC) udaranya jadi gerah. AC ga berasa 'percuma keluarin additional cost untuk AC yang ga berasa,' pikirku.

Makin penuh, penuh dan akhirnya sangat penuh hingga tak ada bedanya dengan kepadatan di non AC. Terutama dari Manggarai. Udara makin menipis. Mana nih AC nya, kipas yang di atas kepala juga ga berasa. Sampai di sekitar Pasar Minggu baru, kondisi di dalam sudah seperti sauna, keringat dimana-mana, dan parahnya ga ada udara. Pengap. Saya mulai merasa megap-megap cari udara. Dan ternyata tidak hanya saya, yang lain pun juga. Ini karena set gerbong AC tertutup toh, jadi sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik.

Lama-kelamaan makin berbahaya. Akhirnya ada Bapak-Bapak yang tampaknya sudah tidak tahan, dia membuka jendela yang letaknya persis di depan saya dan dia. WAAAHHH, sejuknya udara... Tiba-tiba terlintas 'apa bedanya sama non AC dong ya kalo gitu, buka jendela, AC tambah ga berasa kan berarti,' tanyaku. Hal ini diikuti oleh jendela berikutnya, dua jendela dibuka. Tapi itu sudah terlambat, saya sudah sangat megap-megap dan kapok naik ekonomi AC. Parah, sauna 6000 perak tanpa oksigen, wew.

Sejak itu saya sudah satu bulan lebih tidak lagi menggunakan KRL. Kapok berkendara di Jakarta. Pergi penuh, pulang jadi pepes. Belum lagi kereta telat dan aksi saling dorong. Sangat tidak sehat berkendara di Jakarta, menguras tenaga, keringat dimana-mana... Secara psikologis, kita dituntut untuk selalu bersabar yang akhirnya justru luapan emosi terlalu tinggi. Luapan ini bisa terakumulasi dan menjadi potential damage jika ada penyulut yang lain. Alhasil, emosi itu bisa diekspresikan dimana-mana. Meski begitu ada satu hal positif yang sebenarnya bisa diambil dari naik KRL, yakni badan udah capek duluan jadi bisa mengurangi sulit tidur :)

Sabtu, 27 Februari 2010

Apa yang membuat beda (1)

Postingan ini terkait dengan postingan sebelumnya mengenai pekerjaan. Tidak bisa dipungkiri pekerjaan adalah tujuan selanjutnya dari perjalanan hidup seseorang setelah sekolah. Sekarang tinggal apa pekerjaan yang kita pilih, bagaimana kita menjalani pekerjaan itu dan apa tujuan yang ingin dicapai dari pekerjaan itu.

Postingan ini saya mulai dengan sebuah ucapan dari sepupu saya usai Almarhum abang dan bapak tidak ada. Otomatis, saya menjadi laki-laki tertua dalam keluarga. Pada awalnya, saya merasa sangat berat karena seolah semua beban itu dilimpahkan pada saya yang masih 17 tahun. Saya secara implisit diminta menjadi sosok dewasa dalam pemikiran. Sepupu saya yang juga yatim berkata "Masa muda itu bukan hanya buat senang-senang. Ketika kamu sudah mampu hidup dengan jerih usaha kamu sendiri, di saat teman-teman lain masih menadah pada orang tua, disitulah kamu menjadi seseorang. Kamu sendiri dan keluarga kamu akan bangga dengan itu. Dan itu yang akan membuat kamu berubah dalam melihat masalah dan memaknai hidup"

Kata-kata itu terngiang dalam kepala saya. Ya, saya harus melakukan sesuatu untuk masa depan saya dan keluarga. Awalnya, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi setelah lulus SMA nanti. Lebih baik saya bekerja. Tapi nyatanya Allah berkehendak lain. Saat itu saya menemukan uluran tangan dari ibu teman, yang memudahkan saya untuk masuk ke perguruan tinggi. Saya hanya perlu membayar 50% dari uang yang seharusnya dibayar, dan itupun bisa dicicil. Antara senang dan bingung, uangnya darimana? Setelah saya berdiskusi dengan keluarga, akhirnya diputuskan saya harus kuliah agar bisa menjadi orang, jangan mengecewakan Almarhum bapak.

Ketika itu, saya bertekad untuk tidak menyia-nyiakan sedikit pun kesempatan yang ada di depan mata. Saya ingat sekali, menjelang akhir semester satu, ada pengumuman seleksi beasiswa intern kampus. Saya sangat bersemangat dan berharap mendapatkannya. Syukur, doa saya terkabul, saya mendapatkan beasiswa untuk semester dua, walaupun tidak 100% tapi setidaknya bisa mengurangi beban pengeluaran keluarga.

Semester ketiga saya mendapat beasiswa SMBC yang menanggung beasiswa 100%. Sejak saat itu saya yakin bahwa Allah Maha Pengasih. Dibalik 'kegelapan' yang saya temui, Dia memberi cahaya untuk menepiskan kegalaun hati. Dan sejak saat itu, hidup saya berubah.

Semester tiga merupakan titik bangkit saya sebagai seseorang. Saya bertekad untuk mencari uang sendiri. Saya ga boleh sekedar biasa, atau istilahnya "common lucky people", saya harus lebih dari itu. Jadilah saya mencari cara mendapat uang dengan cara halal tentunya. Saat itu Mila, sahabat saya dari SMP, dan Bayu, sahabat dari SD, sangat membantu saya.

Mereka yang memang sudah lebih dulu punya jiwa bisnis. Mila mengajak saya menjadi member Oriflame. "A friendship is a ship that carries you through storms," kalimat itu yang sudah dibuktikan dia. Persahabatan itu ga cuma saat senang, tapi gimana kita bisa membantu teman di kala susah.

Awalnya saya sama sekali ga kebayang bakal berbisnis, apalagi oriflame yang notabene mayoritas produk cewek. Dari dulu saya emang ga ada bakat bisnis sama sekali. Tapi Mila meyakinkan saya kalo hasilnya lumayan, dan segala sesuatu itu patut dicoba. Muchas Gracias Mil...

Bayu menawarkan saya bisnis pulsa. Sama-sama ribetnya tuh awal-awal, mesti deposit dulu lah, transfer kalo stok abis, dll. Tapi ngeliat dia yang bisa 'sukses' sampe sekarang dengan bisnis pulsanya, saya yakin ini worthed untuk dicoba, toh banyak orang butuh pulsa. Tapi ya kendala promosi, dasarnya ga ada jiwa bisnis, saya paling sungkan buat nawar-nawarin gitu. Untungnya saya dibantu sama teman-teman saya. Hehe

Dari laba bisnis itu, Alhamdulillah saya merasa berhasil menjadi sosok mandiri. Saya ga lagi minta uang sama nyokap (terlebih lagi kakak-kakak karena dari dulu memang pantang minta selain ke orangtua).

Tahun ketiga kuliah lagi-lagi Allah Maha Baik, saya dapet beasiswa Yayasan Goodwill Internasional yang mencakup uang SPP dan uang saku. Makin merasa bisa berdiri di kaki sendiri adalah suatu kepuasan yang tiada taranya lho Bro. Ya walaupun saya jauh sekali dari gaya pergaulan anak seusia saya yang bisa makan dimana aja, jalan kemana-mana, tapi saya tetap merasa bangga setiap kali mereka tanya alasannya, saya cukup jawab, ga ada uang, gw kan cari duit sendiri...

Tahun 2008 saya melebarkan sayap mencari pemasukan. Oh ya, kalo kita bisa mencari uang sendiri dengan keringet sendiri, kita akan ngerti gimana susahnya cari uang, kenapa kadang di akhir bulan orang tua agak lebih sensitif dan marah-marah. Karena pusing cuy ngatur keuangan itu...

Tahun 2008, seperti yang saya tulis di blog ini juga, atas rekomendasi Tasha, temen SMA, gw diterima ngajar Bahasa Inggris di Salemba Group. Jujur, seumur hidup saya, saya ga pernah merasakan les, apalagi bimbingan belajar gini. Saya ga ngerti metode pengajaran mereka. Saya juga belajar Bahasa Inggris otodidak. Alhamdulillah lagi, Allah memberikan saya kemampuan itu.

Tahun itu, bagi saya laksana banjir rejeki. Subhanallah. saya diterima juga di Ganesha Operation dan atas rekomendasi Aat, teman organisasi saya, saya diajak kerja di suatu Bimbel Privat. Dan pemasukan dari ketiga kerjaan sampingan saya itu aja menurut saya sangat jauh lebih dari cukup. digitnya sudah bukan lagi ratusan ribu. Makanya (dan merupakan suatu kesalahan sebenarnya), saya meninggalkan usaha pulsa dan Oriflame.

Tapi percaya atau tidak, ketika kita melakukan perubahan dalam keluarga, kita akan menimbulkan efek tertentu bagi anggota keluarga yang lain. Dulu, keluarga saya (selain nyokap) ga pernah ada yang bisnis. Tapi setelah saya, justru kakak saya yang meneruskan dinasti bisnis pulsa dan Oriflame, ditambah bisnis cemilan dan pakaian (semangatnya tinggi banget cuy). Bahkan sampai sekarang. Hehehe. Trus kakak saya yang kedua juga ikut-ikutan jual pulsa. Ade saya sekarang ketularan juga...

Tahun keempat kuliah saya, didukung juga oleh Yayasan Goodwill Internasional. Alhamdulillah. Malah berkat bisnis yang saya jalankan, saya dapat tambahan juga dari Wirausaha Mandiri untuk modal.

Beberapa jenis pekerjaan sudah pernah saya alami dan proses. Mulai dari trainee Account Excecutive pada sebuah perusahaan futures di BEJ lantai 29. Disana saya banyak belajar, mulai dari suasana kerja, memprediksi pergerakan saham sampai melakukan eksekusi pada investasi. Lalu tahun ketiga di Salemba Group dan Ganesha Operation. Oh ya, di tahun ini juga saya dapat orderan sebagai English translator dari Kiki, sahabat saya dari SD dan Mila. Kiki meminta saya mentranslate booklet Kimia Farma sedangkan Mila meminta bikin laporan buat nyokapnya. That's what friends are for... Thank you

Di akhir kuliah, saya apply di Baskin Robbins. Saya sudah lulus semua tahapan, tinggal menandatangani kontrak. Mohon maaf buat BR, saya mengundurkan diri. Tantangannya sih saya suka, tapi ingat-ingat lagi kalo pengalaman saya masih nihil di bidang manajerial dan disiapkan untuk menjadi Manager untuk cabang baru BR, kayaknya saya belum yakin bisa melaksanakan tugas itu. Takut mengecewakan perusahaan.

Tepat 4 hari setelah wisuda, saya bekerja di News ANTV sebagai reporter. Bekerja dengan shift pagi, kemudian siang (shift yang paling apes, hahaha) dan akhirnya malam. Mulai dari stand by di istana wakil presiden sampai bosan, menunggu depan KPK sampai masuk angin, bermalam di pantai Ancol, liputan penggusuran, sampai liputan larangan belok kiri. Dan kebanggaan itu bertambah dengan terpilihnya skripsi saya dalam jurnal Komunikasi. Sesuatu yang tidak banyak orang dapatkan.

Sekarang saya menjejakkan kaki saya di Kementerian BUMN sebagai staf Publikasi Humas. Tugasnya beragam, mulai dari bikin artikel hingga kunjungan dan transkripnya. Saya selalu membantah kalo ada teman saya yang berkata "Enak dong bisa ongkang-ongkang kaki, pulang pergi seenaknya" Saya cukup berkata "Kalo gitu, kenapa lo ga kerja disini aja? ga semua PNS itu seperti yang lo pikirin. Bukti yang simpel aja, lo kerja jam 9 sampai jam 5 kan di swasta? gw masuk setengah 8, pulang jam 5. Lamaan mana? Enakan mana? Tugas lo juga di kantor mungkin ga setiap hari hectic karena banyak SDM nya. Tapi disini, SDM kita sedikit dan melayani publik jadi tugasnya juga otomatis lebih banyak"

Perdebatan terbaru yang saya alami adalah ketika teman saya berujar "Why do you want to work with that stupid government bro?! We give 'em money, taxes and they gave us nothing" panas juga nih kuping, maklum sekarang sudah jadi PNS, jadi seolah dia ngehina saya juga... hoho. saat itu saya jawab (yang tampaknya membuat dia jadi emosi, hahaha) "kalo lo berpikir pemerintah kita ga baik, maka bantulah kita mengubah itu. tidak semua hal bisa diselesaikan hanya dengan uang. perubahan membutuhkan sumber daya manusia juga. kalo kita cuma bisa ngeluh, menghina dan menuntut pemerintah ini itu, tanpa melakukan kontribusi apapun, apa ga sama artinya dengan melempar batu sembunyi tangan? apakah perubahan itu bisa datang hanya dengan kita melihat dari kejauhan? tentu perubahan itu harus diciptakan"

Ciaoyou para generasi muda, teman-teman saya. jangan sia-siakan waktu lo hanya buat senang-senang, nongkrong di mall, nadah ke orang tua. buat hidup lo berwarna dan berharga. buat perubahan kecil yang bisa membuat lo bangga. Hidup generasi muda, hidup wirausaha dan hidup abdi negara!

Kamis, 03 Desember 2009

Ujian Sebelum Bekerja

Setelah sekian lama, akhirnya gw membuka lagi ni blogspot. Setaun lebih kali ya. Karena temen ada yang mulai ngebaca-baca ni blog, gw jadi pengen nulis lagi... Tapi gw belum mau menceritakan perjalanan hidup gw yang panjang. Untuk kali ini, yang singkat dulu aja, yang ganggu pikiran gw beberapa hari ini.

As you know, selagi ngurusin skripsi di paruh pertama tahun 2009 kemaren, gw juga sambil apply kerja. Di bulan Juli, gw diterima sebagai Assistant Manager Baskin Robbins. Tapi ga gw ambil dengan alasan bukan bidang gw dan ga siap dengan tanggung jawab yang akan diemban. Katanya, kalau lulus masa pelatihan, gw akan diangkat jadi Manajer. Duh, belum deh. Masih terlalu dini untuk jadi Manajer. Gw ga yakin sanggup dengan tekanan kerja itu.

Akhirnya gw melamar di perusahaan lain. ANTV. Akhir Agustus ternyata gw ditelepon, diterima bekerja mulai September sebagai Reporter. Wow, KEREN. Ya udah, bersemangatlah gw kerja disana.

Selama kerja tiga bulan di ANTV, gw merasa enjoy. Kayaknya emang dunia komunikasi itu adalah dunia yang paling klop sama jiwa gw. Ritme kerjanya nyantai. I love being a reporter.

Tapi gw ga bisa mengubur cita-cita gw jadi PNS. Ya awalnya sih cita-cita gw jadi diplomat, so I applied for Department of Foreign Affairs. Unfortunately nama gw ga ada di hasil akhir CPNS yang diterima. Hiks. Tapi gw tau kenapa, karena wawancara gw yang ga pol. Gw rasa cuma karena jawaban gw yang terlalu idealis ketika beliau menanyakan kasus sensitif antar negara. Hehe. Katanya, diplomat kayak gw mah terlalu baik. Lah, emang harusnya gimana ya?!

Yadah, gw ga putus asa. Gw ubah haluan jadi PNS aja. Akhir November gw diterima di Kementerian BUMN jabatan Analisis Kehumasan. Pas banget dengan masa kontrak di ANTV yang abis di akhir bulan itu. Wah senangnya... Sementara itu, Setjen DPR juga gw lulus ke tahap final

Waktu menerima email kelulusan BUMN, banyak teman bertanya "Yakin mau ambil BUMN?" Gw ga tau apa maksudnya, tapi gw selalu menanamkan pada diri gw untuk bersyukur atas apapun yang Allah kasih. Kalo gw lulus BUMN, ya berarti Allah menginginkan gw kerja disana. Kalo ga, gw ga akan dikasih lulus toh, seperti halnya Deplu. Sejujurnya sih emang DPR lebih menggoda. Kerja bareng para legislator itu. Tapi nggak lah. Mending bersyukur yang udah ada di depan mata aja.

Selagi gw baru men-settle niat lurus gw untuk teguh menjadi pengabdi rakyat di BUMN, tiba-tiba cobaan berdatangan. Dari perusahaan-perusahaan swasta yang selama ini gw tunggu-tunggu kabarnya (Argghh, coba lebih cepat sedikit). in the next day, gw dihubungin Astra untuk tes. Dua hari kemudian, BCA memanggil gw. dan dua-duanya harus gw tolak dengan napas yang tersedak di tenggorokan. Dalam hati gw berkata "F***ing sh**, I want it very much! Why do you call me just now?!"

Ya sudah, kembali gw menyadarkan diri gw untuk bersyukur. Gw liat temen-temen gw yang masih nganggur, ga lulus CPNS ataupun belum dapet panggilan kerja. Bersyukurlah..

Tapi hari kemudian menjadi satu hari yang sangat menohok sanubari sampai-sampai seorang teman berkata "Kalo gw jadi lo, mending gw nyebur ke laut" Kenapa??? Pasalnya, baru sehari setelah gw daftar ulang BUMN, gw dihubungi Sampoerna untuk tes. WHAT! HUWA! SHOOT! Sampoernaaaaaaaa... Yang selama ini ada di third top list job field gw (yang pertama Deplu, kedua Chevron) Tau-tau menghubungi gw di saat yang amat sangat tidak tepat...

Gw bercerita dengan seorang teman, dan kembali rapuh. "PNS sih masa depannya terjamin. Tapi Sampoerna 7 sampe 15 juta sebulan lho bang..." Huwaaaaaaaaaaa, gimme a break! I need to take the deepest breath I ever had. Walaupun belum pasti diterima, tapi setidaknya kalo job itu dateng lebih dulu, gw bisa ikut tes-tesnya. kalo udah jadi PNS gini kan ngapain juga gw ikut tesnya. Kalaupun keterima ga bakal bisa diambil tuh kerjaan...

Seorang temen gw berkata "Ya udah, coba aja dulu. lo ikut tesnya. kalo emang dapet, ya berarti rejeki lo. lo pilih deh, PNS atau Sampoerna. ganti rugi PNS nya kan 10 juta, cuma setara dengan gaji satu setengah bulan lo di Sampoerna..." Tapi kan masalahnya ga sesimpel itu,,, menyangkut idealisme sebagai pengabdi rakyat dan nama baik di institusi pemerintahan. Kalau pun gw ngejar materi dulu dengan kerja di Sampoerna untuk beberapa tahun, 25 tahun ke atas gw apply lagi di PNS, gw ga yakin bisa keterima. bisa aja kan nama gw udah di-black list karena ingkarin pengangkatan PNS... GOD, teguhkan hatiku... Luruskan niatku. Berkahi hidup dan keputusanku. AMIN

Senin, 05 Januari 2009

My life in 2008

Talking about 2008, I might say I got so many new experiences that I hadn’t even dream about in previous year. Year that full with good things for me and made me even more crying to be close with and touched by God’s hand. Realized that I am so blessed…

Started in January when I was offered to teach English in Salemba Group Learning Courses by Mila. I was doubt to accept since I never had courses along my life so I had no idea how to teach in such Learning Courses. Should I be like teacher at school who would give punishment to student who didn’t pay attention or somewhat else??? And I also never joined in English courses too. All capabilities of mine are got autodidactic. So, “was I really deserved to do it?” My heart said that I should try so I am able to know whether I was deserved or not

Thank God that I felt really enjoy with new environment. I never thought that I would find such lovely working environment at Salemba Group. In February, a new job was flown into my hand. Aat, my partner at ISAFIS offered me to join in private teaching learning courses titled Alika at Depok 2. In the near time I got some side-jobs in teaching English

Then March, Ucrinz Elabora (MiLABOtiaRA) ask me to apply in Ganesha Operation Learning Courses. I tried and thanks God I was accepted too. I directly got some schedules there but unfortunately it wasn’t so for Labora.
It was the first time in my life that I get my own earnings. Wow, nothing compare the feel of satisfaction of getting our own income, that's for sure. Usually you just asking your mom for anything you want to buy but now you can give it to your mother, for your family. It felt like you are already being an independent man. I haven’t asked for money to my mother, even for paying credit, lunch, holiday, etc. it was the first time too I can hold some big amount of money in a month that even can beat my friends' income who work in a company.

April, for the first time to, I have a Table Manner class. We wear business attire and eat in manner at a restaurant. Haha… In the same month, I joined as usher at Kick Andy Goes to Campus and Annual Regional Government Meeting at UI.
After a long time of being alone, in 2008 I was really close again to Kiki. Yeah, maybe it seems like we are cheating but we didn’t care at all. We felt a huge love that we ever felt some years ago. We often went together, even I accompanied her working in her office over midnight. That was really wonderful moments that makes me realize that I still love her so much. Perhaps that’s why I still can't open my heart yet for another relationship.

May. Well, I was feeling so much dilemma. I was in fire of falling in love again with Kiki. On the other hand, there were two girls who revealed their feelings to me. What should I do???

In June, WOW, amazing time I had! I joined in 2nd Asia-Europe Youth Interfaith Dialogue. For the first time in my life, one of my dreams came true. I joined in some days meeting with youth from Asia and Europe in International system, taking part in delivering idea for world concern, eats International meals menu all time in five-star hotel in Bandung. All done in English. And I made friends with so many people there!!!

July I had internship at Information and Media Services, Department of Foreign Affairs for a month with Jessi and Affi. We met Nika, Inggar and others too. Well, once again I got friends. The internship was both interesting and boring. Haha. But there are so many nice people there, esp Mba Wi. This month, I also got a job as translator for Kalbe Nutritional handbook. Hmm… it’s really hard to be a translator… Fiuh

Since August, I’ve become Abang Depok 2008, Tourism Youth Ambassador of Depok City. I was shocked by myself that I won the pageant. How come. I joined in determination and not so optimal I guess. But I’m so glad that my mother was proud of me. The biggest happiness for a child is to see his parents proud of him, happy and smile for him and when he feels that he can repay all goodness that parents give to him, including giving his earnings.

September. Actually I got an internship at Panasonic. Through all selection process and interview, I was accepted in Press Relations. BUT. Unfortunately, the manager just said that she needed me to work fulltime so I have to choose one between working in Panasonic and study. And I chose my study. One more! In September 2008 for the first time too, I held a surprise party for my mother and my friend. What a good experience…

October I met Gero and friends. They came from Germany and would stay 4 days in Jakarta before going to Semarang to do volunteer. I was being such a tour guide. I had to find appropriate hotel for them in Jaksa street, pick them up at airport, make sure that they got all their needs, accompany them touring in Jakarta and other things. At the same time, I also pass the outline council for my final paper. Yes! Haha…

Unfortunately I have to bury my dream to graduate in 3,5 year because I didn’t have much time to done my paper since all papers should be collected in the end of December. So I just had two months. Actually it’s possible for me to wrap the paper in two months but in November, I would follow the selection and quarantine as Mojang Jajaka Jawa Barat 2008 (Tourism Youth Ambassador of West Java) in a whole one month where I met kind friends around West Java, like Fahri Dian Fery Rudi Dita Andra Kinan Resi Yusuf Feri Afri etc. By the way, on November my pictures are spread at some spots in Depok. Haha. Well, back to my final paper case, I couldn’t finish it in a month reminds that I must have some consultation schedules with my lecturer, doing research, processing data and other steps so,,, huhuhu.

December. I was happy for my friends’ graduation. Presti, Rina, Pius, Kippy. And I also was offered to join Danone business competition and apply to be Javajazz committee that will be announced in January 2009.

It’s just some big stories that I faced in 2008. There are still so many good memories I experienced. About my job, my friends, offer from an agency, about my life. I felt so more freedom this year and I learnt big learn about being sincere.

Thank God. You are so kind to me. Please, touch my heart and make me dying for Your love… In every beat of my heart and breathe.

Jumat, 31 Oktober 2008

Master of Ceremony Goodwill

Tanggal 18 Oktober gw menjalankan job MC berbahasa Inggris untuk pertama kalinya. Fiuh, deg-degan abis. Soalnya kalo bahasa Indonesia kan udah biasa, gw bisa bercanda-canda juga. Terakhir kali gw nge-MC itu tanggal 16 September buat Yayasan Trasnformasi Lepra Indonesia dan 21 September buat acara internal bimbel SG. Ya lumayan gampanglah kalo MC bahasa Indonesia dan suasananya nyantai. Sedangkan hari ini, gw diminta formal dan English only. Secara yang dateng adalah pejabat-pejabat dari perusahaan sponsor beasiswa Goodwill.
Gw dateng setengah jam sebelum acara dimulai. Ya biasalah liat-liat situasi sekaligus tanya-tanya tentang rundown. Karena keterlambatan dari para undangan, akhirnya acara mundur 20 menit. Setelah itu acara dimulai
Dua jam lebih gw cas-cis-cus bahasa Inggris di depan. Ga tau deh tuh gimana kualitas berbahasa gw, yang ada di otak gw Cuma jalanin tugasnya. Ternyata, gw jalankan tugas dengan cukup baik sepertinya. Hehehe... Beberapa sponsor menjabat tangan gw dan memuji kerja gw. Alhamdulillah...
Tadi gw sempet kaget waktu tau-tau tampang gw ada di layar proyektor pas pembacaan prestasi penerima beasiswa Goodwill taun lalu. Ya ampun, Mrs Hara ternyata memasukkan Abang Depok sebagai prestasi gw, hiks, jadi terharu... Soalnya yang ditampilin Cuma orang-orang yang bener-bener berprestasi. Bayangkan, yang di slide itu semuanya cum laude, atau dapet kerja di luar negeri, ikut lomba Internasional, dan sebagainya. Sedangkan gw nyempil di tengah-tengah nya dengan titel Duta Wisata. Bangga banget gw... Sayangnya sponsor gw ga dateng...

Lulus Sidang Outline Skripsi

Hore!!! Ga sia-sia juga gw berkorban ngumpulin skripsi ampe nyasar ke permata hijau, joglo, cipulir, daan mogot, dan kebon jeruk yang berujung di rumah PA (Pembimbing Akademik) daerah kemanggisan... Akhirnya gw dapet jadwal sidang outline. Dan,,, Gw lulus sidang outline skripsi! Hahaha Masih sempet ga ya gw kejar tiga setengah taun? Gw mesti kumpulin revisi, cari profil perusahaan alias bikin bab 4, ajuin kuesioner, ujicoba kuesioner, trus kalo lulus baru bisa turlap. Setelah itu harus analisis data alias bab 5 dan waktunya cuma ampe tanggal 30 November. Sedangkan gw akan izin kuliah sekitar 2 mingguan buat rangkaian program MOKA di Bandung... Hmm... Let see

Au Revoir!

Hiks, tanggal 6 Oktober, hari terakhir mereka di Jakarta. Ga kerasa udah 4 hari mereka disini, jalan bareng ke beberapa tempat. Ya belom semuanya sih. Mungkin lain kali kalo mereka kesini lagi.
Hari ini diawali dengan gw bangun tidur. Hmm... jadi kesian ma ponakan gw, dia langsung minta gendong pas liat gw keluar kamar. 4 hari ini emang gw ga sempet maen ma dia karena pagi-pagi udah jalan, pulang tengah malem... yasudah, karena ntar siang juga dia rencana pulang ke Bogor, gw sempetin maen dulu sebentar. Tadinya sih niat cuma ampe jam 10 tapi ternyata dia ngekeh ga mau lepas dari gw ampe setengah 11. yang ada gw jadi semakin buru-buru mau pergi. Kesian...
Oke, akhirnya karena waktunya mepet, gw naek motor. Nyampe hostel jam 12 kurang 5 menit. Ternyata mereka pada baru bangun tidur, udha mandi sih, tinggal packing aaj. Ampe setengah 1. Untungnya pihak hostel baek banget ma gw... mereka bilang gapapa.
Setengah 1 kita langsung ke Sarinah buat ketemu Mas Dimas, administrator IIWC. Dia yang bakal nemenin mereka naek kereta ke Semarang malem ini. Nyampe Sarinah ternyata mas Dimas lagi ngenet dan kita diminta nunggu setengah jam. Hmm,,, gw sih oke-oke aja tapi mereka mulai ngeluh di menit ke 15... Hihihi...
It got worse karena kita nunggu 40 menit buat bis 102 Depok-TanahAbang. Biasanya tuh bis muncul tiap 30 menit deh perasaan, kok hari itu ga ada sama sekali ya. Jadilah mereka ngeluh lagi. Yasudah, mau apalagi, mesti cepet ambil tindakan. Kita pake kopaja aja. Untungnya ga macet, kalo macet, pasti mereka ngeluh lagi karena kepanasan.
Nyampe di komdak ternyata lagi-lagi ga ada bis ke depok. Kita mesti nunggu sekitar 20 menit. Pokoknya tuh hari apes banget deh bagi gw karena mesti berkali-kali minta maaf dan ngejelasin ke mereka soalnya Seba nanya kenapa mesti nunggu lagi padahal banyak bis yang lewat, ya kan ga semua bis ke Depok, waktu itu banyakan ke Ciledug n Bekasi...
Akhirnya dapet juga tuh patas AC. Tapi jreng-jreng, penuh sesak. Hihihi, mereka mesti dempet-dempetan di bis. Untungnya lagi, ga macet... sekitar 25 menit nyampe deh di kober... fiuh,,, melelahkan.
Tanpa buang waktu lagi, kita langsung nyebrang. Lewat gang. Oh ya, di gang itu mereka agak sedikit senang lah karena ternyata ada rumah bambu dan sarang laba-laba beserta laba-laba gedenya deket situ jadi mereka bisa foto-foto... Hahaha
Nyampe UI langsung kita bawa ke Kancil. Mereka suka banget lewatin jalan setapaknya karena mereka bilang “Cool, smells like forest! So fresh... I love it”
Tapi jangan dikira perjuangan selesai disitu. Nyampe Kancil ternyata penuh! Huh, tuh bule mesti berdiri dulu deh sambil nyari kursi kosong. Jadilah mereka bahan tontonan anak-anak disana...
Apesnya lagi, pas dapet kursi kosong, gw langsung cari makanan dan semua counter makanan disitu bilang “udah abis mas...” wek, kesel banget gw. Udah jauh-jauh... jadilah gw mesti lari-lari ke kantin Psikologi yang satu lagi, Takor dan Bloc yang semuanya bernasib sama, keabisan... aduh, kesian banget mereka. Mereka ga sempet sarapan tadi karena bangun jam 12. sekarang udah jauh-jauh ternyata ga dapet apa-apa. Dan yahhhh.... setelah gw menjelaskan ke mereka dan mereka minta pindah secepatnya, ujan turun dengan derasnya... hiks hiks,,, agak stres juga jadinya. Ya sudah, cari akal... Sip dapet, kasih aja mereka popmie dulu. Gw beliin satu-satu dan mereka memakannya dengan lahap.
Setelah ujan berenti, kita jalan ke Pijat Refleksi Dizza Resto (inget, mereka udah minta massage dari 2 hari yang lalu) dan ternyata TUTUP!!! Haaa!!! Kesel banget deh pokoknya. Capek harus ngejelasin lagi ke mereka dan minta maaf... Akhirnya puter otak lagi. Dapet! Ke Detos aja. Kayaknya ada tempat pijat. Dan hahaha,,, akhirnya beneran dapet, tapi cuma buat 2 orang!!! Jadilah tuh massage buat Seba dan Gero dulu karena yang cewek bisa massage di Beauty Salon.
Setelah itu, gw nemenin Gero, Seba, Tina, dan Sandra ke toko buku, beli kamus. Then, udah deh, langsung nyamperin Inga dan Isabelle di Johny Andrean karena udah setengah 7 dan Mas Dimas ngingetin berkali-kali mereka harus selesai jam 7 dan langsung naek kereta ekspress.
Massage selesai jam 7.05. Huhuhu, jadilah kita in rush lagi... cepet-cepet ke stasiun Pocin dan lagi-lagi! Ternyata udah ga ada kereta ekspress. Tinggal ekonomi biasa yang terakhir jam 7.40 dan ekonomi AC jam 8.50. Ah, stress deh pokoknya... ya udah akhirnya ambil yang ekonomi biasa aja. Pas dateng, gw langsung suruh mereka naek kereta sementara gw akan nyusul naek motor. Dan ternyata mereka salah naek kereta aja gitu!!! Huaa.... Untungnya ada Mas Dimas udah pernah ke Jakarta. Dia tau kalo mesti turun dulu di Manggarai terus nunggu kereta ke Gondangdia.
Sementara mereka di kereta, gw deg-degan banget. Takut telat. Pas viqi dateng, langsung kita cao. Gw yang bawa motornya soalnya viqi bawanya agak kalem jadi takut malah telat nyampe hostel.
Depok ke Jaksa cuma di tempuh 25 menit. Nyampe hotel gw dan viqi langsung pindahin barang-barang mereka ke depan hostel untuk diangkut. Behhh,,, banyak banget. 6 orang dengan 12 tas gunung yang gede dan berat banget. Kita sampe seret-seret tuh tas. Fiuh,,,
Untungnya pihak hostel bilang menyediakan mobil sewaan. Yaudah lah, daripada nyewa taksi, mesti dua taksi, mending nyewa aja, 70 ribu. Udah termasuk bantuan tenaga angkut ke mobil. Baguslah...
Nyampe Gambir jam 9.02. Hectic banget dah. Gw langsung telepon mas Dimas biar mereka bisa ambil barang-barang mereka sendiri. Proses angkut mengangkut barang selesai jam 9.15 dan kereta berangkat jam 9.30... untung banget dah masih keburu.
Akhirnya tiba saatnya ucapin “goodbye, see you soon” Owwhhhh, sedih juga rasanya bakal berpisah sama mereka. Mereka baek-baek semua, terutama Inga dan Gero. Kita sempet becanda dulu sebelum mereka masuk peron. Hmmm.... Selamat Jalan Teman! Sampe Ketemu Lagi!

Selesai nganter pulang, gw viqi dan adit makan dulu di Kalibata. Sate padang dan minum jus. Oh ya, nih jus beda dari biasanya. Gw mesen jus kiwi campur terong belanda, viqi mesen jus kiwi campur markisa dan adit alpukat campur kerak telor. Selesai itu, kita langsung nganter Adit pulang ke kosan dan akhirnya, setelah seharian di luar, gw tiba juga di rumah jam setengah 12... Fiuh, what a day!